kenyataan ini untuk dientaskan
tidak dipolitiki dengan janji tanpa bukti
ada bukti, tapi nanti jelang pemilu di depannya lagi
biar kepilih lagi biar bisa nipu lagi nanti
di pemilu depannya lagi
begini?
kah?
Terima “janji” atau “gizi” akhirnya sama saja. Ya mending terima…
Jadi ingat lagu yang sering dinyanyikan waktu kecil dulu: Aku makan propaganda, dengan lauk janji-janji … (Lagu “Aku Anak Indonesia” — Yayak Kencrit)
Politik adalah jabaran dari “membunuh atau di bunuh”! Kalau kemudian para politisi kita herhati keji, itu adalah imbas dari jabaran tersebut. Demi mengembalikan hutang-hutang, demi membeli lagi mobil yang telah dijual dan rumah yang digadaikan untuk modal kampanye mereka tega melakukan kekejian itu.
Rumah Sakit Jiwa tahun ini menyiapkan lebih banyak tempat dan dana untuk menampung Caleg2 yang tidak berhasil mengembalikan hutang-hutangnya (ya uang ya janji) dan tak lagi memiliki mobil serta wajah di kampungnya.
Semoga kita tidak termasuk salah satu penguni Rumah Sakit Jiwa itu.
Salam dari Jogja
Salam ‘tuk ananda Puang Cahaya Dewa Bakka Mattaliu
Sudah saatnya kita ganti sistem,
untuk masa depan umat yang lebih baik!
semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)
wassalamu alaikum wr. wb.
Masih bingung milih apa ne….
Memilih ya memilih … semoga ada petunjuk di hati
saya tak suka politik tapi saya kagum dengan apa yang anda tulis,,jujur saya kagum dengan tamplian blog anda…saya ingin belajar..saya mohon..http://assalamuaalaikumworld.blogspot.com
apa kata hati aja deh…
jangan memaksa diri kalo nurani berkata lain…
Tuhan ..
Berilah kami pemimpin yang ingat bagaimana rasanya menjadi rakyat biasa..
Agar mereka bisa berempati dan tak lupa, bahwa menjadi miskin dan tak punya daya itu …
waktu jadi caleg: saya janji deh……..bla…bla….bla……
udah jadi wakil rakyat : ga janji deh….
rakyat : CAPE DEHHHH……
salam kenal…..btw, mbak ini orang bugis atau makassar ? nama anaknya berbau-bau bangsawan bugis makassar gitu….
Malam itu aku bermimpi tentang seorang lelaki
putra bumi kesayangan negeri
dia datang disaat fajar
berjalan didalam badai meniti gelombang
“Aku telah datang dengan membawa bara di dada
dan seperti yang kuinginkan api itu telah membesar dan terus menjalar”
bangkit berdiri anak-anak negeri
menghimpitku di tengah-tengah mereka
berseru gegap gempita
canangkan tekad bajakan semangat
tiba-tiba dari seluruh penjuru datanglah
laskar petaka mengumbar murka
tercerai berai.. terserak kami semua
berdirilah dia dihadapan para dursila
setegar karang setenang samudra
menantang maut serahkan hidupnya
…dalam kegeraman
…dalam kemurkaan
mereka menyesahnya
putra bumi kesayangan negeri
direnggut dari tengah-tengah kami
kini telah pergi dia yang kami kasihi
lalu kulihat seorang badut
wajahnya dipulas dipatut-patut
seringai serigala namun terlihat selalu tertawa
“Aku telah datang membawa kesenangan dan kegembiraan
hidup hanya sekedar permainan mari jadikan sebagai panggung hiburan”
Gegap gempita seluruh negeri
badut diangkat didudukkan kursi
“jadilah pemimpin kami
terima hormat daulat kami”
hancur hatiku melihat itu
dengan menangis aku berlalu
bangsaku oh bangsaku
mengapa kalian begitu dungu?
kenyataan ini untuk dientaskan
tidak dipolitiki dengan janji tanpa bukti
ada bukti, tapi nanti jelang pemilu di depannya lagi
biar kepilih lagi biar bisa nipu lagi nanti
di pemilu depannya lagi
begini?
kah?
Terima “janji” atau “gizi” akhirnya sama saja. Ya mending terima…
Jadi ingat lagu yang sering dinyanyikan waktu kecil dulu: Aku makan propaganda, dengan lauk janji-janji … (Lagu “Aku Anak Indonesia” — Yayak Kencrit)
Politik adalah jabaran dari “membunuh atau di bunuh”! Kalau kemudian para politisi kita herhati keji, itu adalah imbas dari jabaran tersebut. Demi mengembalikan hutang-hutang, demi membeli lagi mobil yang telah dijual dan rumah yang digadaikan untuk modal kampanye mereka tega melakukan kekejian itu.
Rumah Sakit Jiwa tahun ini menyiapkan lebih banyak tempat dan dana untuk menampung Caleg2 yang tidak berhasil mengembalikan hutang-hutangnya (ya uang ya janji) dan tak lagi memiliki mobil serta wajah di kampungnya.
Semoga kita tidak termasuk salah satu penguni Rumah Sakit Jiwa itu.
Salam dari Jogja
Salam ‘tuk ananda Puang Cahaya Dewa Bakka Mattaliu
saya GOLPUT,salahkah saya?
hahaha……
salam dari Sidoarjo
assalamu alaikum wr. wb.
Permisi, saya mau numpang posting (^_^)
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/17/demokrasi-bukan-jalan-perubahan-hakiki/
Sudah saatnya kita ganti sistem,
untuk masa depan umat yang lebih baik!
semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)
wassalamu alaikum wr. wb.
Masih bingung milih apa ne….
Memilih ya memilih … semoga ada petunjuk di hati
saya tak suka politik tapi saya kagum dengan apa yang anda tulis,,jujur saya kagum dengan tamplian blog anda…saya ingin belajar..saya mohon..http://assalamuaalaikumworld.blogspot.com
apa kata hati aja deh…
jangan memaksa diri kalo nurani berkata lain…
Tuhan ..
Berilah kami pemimpin yang ingat bagaimana rasanya menjadi rakyat biasa..
Agar mereka bisa berempati dan tak lupa, bahwa menjadi miskin dan tak punya daya itu …
waktu jadi caleg: saya janji deh……..bla…bla….bla……
udah jadi wakil rakyat : ga janji deh….
rakyat : CAPE DEHHHH……
salam kenal…..btw, mbak ini orang bugis atau makassar ? nama anaknya berbau-bau bangsawan bugis makassar gitu….
http://hendra00.blogspot.com/
Malam itu aku bermimpi tentang seorang lelaki
putra bumi kesayangan negeri
dia datang disaat fajar
berjalan didalam badai meniti gelombang
“Aku telah datang dengan membawa bara di dada
dan seperti yang kuinginkan api itu telah membesar dan terus menjalar”
bangkit berdiri anak-anak negeri
menghimpitku di tengah-tengah mereka
berseru gegap gempita
canangkan tekad bajakan semangat
tiba-tiba dari seluruh penjuru datanglah
laskar petaka mengumbar murka
tercerai berai.. terserak kami semua
berdirilah dia dihadapan para dursila
setegar karang setenang samudra
menantang maut serahkan hidupnya
…dalam kegeraman
…dalam kemurkaan
mereka menyesahnya
putra bumi kesayangan negeri
direnggut dari tengah-tengah kami
kini telah pergi dia yang kami kasihi
lalu kulihat seorang badut
wajahnya dipulas dipatut-patut
seringai serigala namun terlihat selalu tertawa
“Aku telah datang membawa kesenangan dan kegembiraan
hidup hanya sekedar permainan mari jadikan sebagai panggung hiburan”
Gegap gempita seluruh negeri
badut diangkat didudukkan kursi
“jadilah pemimpin kami
terima hormat daulat kami”
hancur hatiku melihat itu
dengan menangis aku berlalu
bangsaku oh bangsaku
mengapa kalian begitu dungu?
http://tomyarjunanto.wordpress.com/2007/11/23/mimpiku/
bingung juga ni… apa ya???