Nasib pahit jadi perempuan indonesia

Hari perempuan di peringati tiap tahun, dari tahun ketahun banyak perempuan bunuh diri karena di miskin secara struktural, janji-janji partai politik 30 % di parlemen hanya tinggal kenangan tapi yang di pekerjakaan di lembah hitam lebih banyak, selebihnya nekat jadi TKI yang beruntung di beri gelar pahlawan defisa tapi yang gagal pulang jadi bangkai, penguasa hanya bisa bilang lagi di usut.
Yang nasibnya agak beruntung adalah perempuan jadi-jadian, yang biasa di sebut banci mereka laris manis di TV berperan jadi badut, yang beruntung jadi perancang busana, yang sial mangkal di taman lawang yang lebih sial jadi pengamen di lampu merah.
Maret 13, 2009 pada 11:12 pm
Jadi, bangkitlah para perempuan! Jadilah perempuan seperti yang kau inginkan. Bukan semata seperti yang aku (laki-laki) inginkan.
Maret 14, 2009 pada 4:00 am
kritis dan sesuai fakta…
Maret 14, 2009 pada 10:11 am
Tak ada habis-habisnya, selagi hubungan laki dan perempuan masih timpang, hikayat suram perempuan terus berulang. Dari Siti Nurbaya sampai Luthfiana Ulfa. Bahkan perempuan-perempuan sebelumnya. Struktur dan kultur patriarki sudah mendarah daging: sejak jaman Adam sampai Adam Malik hingga Adam Fikri Ahimsa (ponakanku) yang baru berumur lima tahun. Kebangkitan perempuan hanya jargon-jargon….
Ironisnya ada pula ada pula perempuan yang kelakuannya lebih patriarki daripada laki-laki. Mereka banyak duduk di kursi kekuasaan di negeri kita. Dengan yakin mereka (selalu) bilang: “Yah, Anda tau sendirilah perempuan-perempuan itu kan bisanya nggosip, dandan, merepet…dst..dst…”
Bah! cemana pulak itu?
Maret 16, 2009 pada 7:19 am
…sedang perempuan yang di’duduk’kan di kursi dewan ataupun eksekutif hanya sekedar sebagai ‘tambal butuh’…
butuh figur perempuan biar terlihat adil & sejajar
ughh…
Maret 16, 2009 pada 9:13 am
Masih banyak perempuan di negeri ini yang suka direndahkan dengan pujian. Sementara permepuan yang berjuang demi kaumnya tak pernah dapat dukungan dari kaumnya. Meski demikian janganlah berhenti wahai perempuan pejuang kaumnya!
Maret 16, 2009 pada 9:14 am
Masih banyak perempuan di negeri ini yang suka direndahkan dengan pujian. Sementara permepuan yang berjuang demi kaumnya tak pernah dapat dukungan dari kaumnya. Meski demikian janganlah berhenti wahai perempuan pejuang kaumnya!
Salam dari Jogja.
April 2, 2009 pada 8:13 am
Begitulah, perempuan seakan hanya sebagai pelengkap saja… Dooooh nasiiiiiiiibbbbbbbb…
April 8, 2009 pada 4:55 am
Nice pic, nice blog, interesting writing !!
Ceplas ceplos apa adanya
April 11, 2009 pada 8:38 pm
Bagaimana dengan perempuan yang tak bisa menghargai dirinya sendiri, sekalipun lingkungannya mengistimewakannya …?
Masuk ke kategori beruntung kah, atau hanya numpang lewat hidup di bumi menjadi pajangan ??