Iklan politik sontoloyo

foto ini kami publikasikan atas persetujuan model, dan tidak ada niat kami untuk melecehkan profesi mereka, perempuan, pria atau banci itu hanya sebuah nama yang kelak akan di minta pertanggung jawabannya di hadapan Tuhan yang maha perkasa
Di sudut kota bertebaran baliho para calon anggoto legislatif, ada yang tersenyum manis seperti koruptor menunggu vonis , ada yang bergaya orator dengan latar belakang gambar sukarno menuding, dan ada juga yang berlatar gambar monyet (mungkin ingin memberi pesan manusia lebih kuasa dari monyet walau monyet dan manusia saudara sepupu menurut teori darwin).
Ada yang berfose beramai-ramai seperti mahasiswa yang baru di wisuda , ini barangkali calon legislatif bermodal cekak (maaf bukan menghina, Cuma dugaan)
Wahai para penyembah kekuasan…. Kami tidak butuh kau jajakan wajahmu, seperti banci di taman lawang yang membuat gemas para kantip untuk merazia ………………………..
Maret 7, 2009 pada 7:31 am
Saatnya kita melihat: Kontes Berani Bego!
Risih juga aku melihat mereka adu klaim yang paling berhasil mensejahterakan rakyat, padahal mereka paham itu hanya bualan tentang keberhasilan semu, kalau terlalu kasar jika disebut kegagalan.
saatnya rakyat kecil menunjukkan kearifan dan kecerdasannya, dan balik mentertawakan kebegoan para elit politik.
Maret 7, 2009 pada 7:14 pm
Themenya masih legam ya “yang penting kan hostnya enggak”. Kita cabutin yuk iklan sontoloyonya… berani nggak
Maret 10, 2009 pada 1:23 am
“Kontes Berani Bego?” Setuju sekali! Di daerahku ada gambar caleg yang tertawa lebar mirip seorang pelawak yang habis dapet lotre.
Di suatu kampung dimana saya pernah tinggal disitu juga ada caleg-caleg muda yang belum/tidak jelas kemampuannya. Namun ada juga caleg yang sama sekali tidak meng-iklankan wajahnya di sepanjang jalan kotaku, itu bisa jadi karena benar-benar modal dengkul alias nggak punya dana sama sekali, bahkan hanya sekedar untuk membuat gambar outdoor wajah dan partai yang hanya Rp 22.500,-. Hebat ora?
Bulan depan kenaikan gaji PNS diterimakan dan ini akan berdampak dengan kenaikan kebutuhan pokok. Bagaimana dengan saya dan saudara-saudara saya yang bukan PNS yang sangat tergantung dengan kempuan tempat saya dan mereka bernaung? Bisa nggak anggota Legislatif atau anggota DPR yang sangat mulia mensejahterkan kami seperti mensejahterkan PNS yang meski kesejahteraannya selalu diperhatikan tapi kerja tetap tak profesional?!
Maret 10, 2009 pada 10:32 am
Koes Plus Holiq di Sonora setiap Jum’at pk 22.00 Bunda.
Sawlam dari Jogja
Salam buat ananda Puang Cahaya
Maret 10, 2009 pada 4:24 pm
selamat berlibur, kecerdasan
nanti di sembilan april
siapa pengikut akan terekrut
tapi siapa leader akan tak keder
di iming-iming perubahan sontoloyo, kale!
Maret 11, 2009 pada 4:40 am
Entah. Rasanya perlu ada yang berbuat sesuatu, bukan cuma ngomong dan golput (sayangnya saya juga cuma diam dan golput)
Maret 11, 2009 pada 9:37 am
Dikenali dulu wajahnya satu persatu, kira-kira mencurigakan, ya gak usah dipilih… hihi
Maret 12, 2009 pada 4:38 am
iklan memang dibuat untuk membual. Itu kesimpulan saya. Baik iklan politik, ataupun iklan-iklan komersil. Hanya sedikit iklan yang mencerdaskan *lagipula itu bukan tugasnya iklan kalee..*
http://prajnas.blogspot.com/2008/09/menepis-rasa-bersalah-dengan-iklan.html
Maret 12, 2009 pada 8:28 am
Iklan memang iklan, fungsinya mempermak dagangan agar terlihat manis dan menutupi bopeng yang ada. Konsumen kemudian berduyun-duyun membelinya. Mana ada produsen kecap yang bilang kecapnya nomor dua?
Syukur kalau hanya tertipu iklan kecap kita bisa minta perlindungan sama lembaga konsumen, lah kalau iklan politik (sontoloyo)? Hati-hatilah pilih kecap!
Salaman,
jemie simatupang
Maret 14, 2009 pada 8:31 am
Makasih udah mampir ke blog saya, salam kenal juga. Mohon petunjuknya, he..he.
Yup, saya setuju tuh, bullshit semua dengan iklan politik.
April 3, 2009 pada 5:38 am
Makasih sudah mampir ke blogku. Saya juga punya keprihatinan yang sama dengan para caleg dan penyembah kekuasaan sontoloyo itu. Saya pernah nulis di blog tentang iklan politik Golkar di tempatku yang menyeret nama Jusuf Kalla dan sang Bupati.