MUI haramkan GOLPUt memangnya gue pikirin ???

terpaksa saya ikut PILKADA because di jemput sama pak RT, untung bukan militer kalau menolak bisa di karungi kayak orde baru kata orang, tapi saya tusuk semua biar adil, apakah itu golput tanya MUI
kok saya di suruh memilih, saya kan tidak kenal dengan calon-calon itu. Kalau melihat gambarnya saja kan belum berarti kenal, buat apa saya memilih, siapapun menjadi presiden/wakil rakyat dia ber-edioligi sosialis, kapitalis dan komunis sekalipun, kalau saya tak bekerja tak akan makan.
kalaupun negara ini jadi bar-bar/berlaku hukum rimba karena tidak ada pemimpinnya apa peduliku, saya bisa berperilaku seperti orang yang hidup di rimba.
Intinya yang butuh pemimpin hanya orang yang lemah dan orang yang ingin mencari nafkah dengan mengatur kebodohan,kelemahan orang-orang yang suka beronani dalam pikiran merindukan kesejahteran.
haruskah para pemilih digiring ke tempat-tempat pemugutan suara jika setelah pemilu ternyata mereka yang terpilih akhirnya hanya berpesta di atas penderitaan rakyat.??????????

mengapa Tuhan tidak menghapus sunyi
kalau hatimu bebas, keberanian akan mengikutimu
Januari 31, 2009 pada 11:07 pm
“…saya bisa berperilaku seperti orang yang hidup di rimba.” Artinya, kalau merasa kuat berana menampakkan diri dan kalau merasa lemah, selamanya merunduk-runduk dibalik semak atau hidup di dalam tanah?
Memang pemimpin yang buruk tak kita perlukan, tapi dalam situasi tertentu pemimpin yang baik tetap saja kita perlukan.
Bukankah Anda juga seorang pemimpin yang baik bagi putri anda? (setidaknya sampai dia dpt menentukan arah hidupnya sendiri)
Februari 4, 2009 pada 4:39 am
nggak kok saya nggak lulusan luar negeri… saya cuma lulusan sekolah ndeso di pojok timur jawa timur
salam dari malang
====
salam dari bandung
I like read your blog, bahasa english anda very good, mudah di cernah, bisa di jadikan referens buat nulis puisi english,
apakah anda lulusan luar negeri di bidang bahasa ??????????
saya ingin melink blog anda, semoga anda tidak keberatan
from silent word
http://esaifoto.wordpress.com/
Februari 4, 2009 pada 6:44 am
Pada suatu periode pemiihan pernah saya sampai di jemput di rumah disusuh mencoblos. Lha itu kan hak saya mau nyoblos apa nggak, ya kan Bunda?! Haram? Saya nggak setuju! Makruh? Itu akan lebih baik!
Salam dari Jogja buat Bunda dan anaknda Puang Cahaya Dewa Bakka Mattaliu
Februari 6, 2009 pada 8:19 am
terserah aja ah….
Februari 6, 2009 pada 10:31 pm
Salam dari Bogor…
Sebelumnya saya mau ngucapin nakasih atas komentarnya. Cuma sedikit info, ternyata ada sedikit kesalahan link di artikel tsb. Untuk lebih jelasnya jika anda mempunyai sedikit waktu, silahkan cek kembali di halaman saya.
Cuma ingin mengingatkan saja (bukannya ceramah or macam2
), sebelumnya komentar anda masuk dalam kategori “Spam” di artikel saya, mungkin anda memasukkan link alamat blog anda di body message. Jadi sedikit saran tambahan, lebih baik jika anda dalam status login di wordpress dan anda browsing untuk mencari artikel2 yg ingin anda baca, dan kebetulan anda ingin memberikan komentar, lebih baik alamat blog WP anda jangan dituliskan lagi di body messagenya, wordpress dengan otomatis sudah mencatat id anda. Terkecuali jika anda tidak dalam berada status login.
Jadi komentar anda sudah saya rubah bukan menjadi menjadi spam, tetapi komentar biasa.
Oiya, mengutip artikel yg anda bahas ini, kalau saya pribadi tidak setuju MUI memfatwakan GOLPUT itu haram, coz sikap memilih atau tidak itu adalah hak rakyat. Kalau di jaman sekarang banyak masyarakat yang GOLPUT, itu bukan berarti bujukan untuk tidak memilih atau tidak suka ataupun tidak tahu dengan siapa calonnya, tetapi masyarakat sudah mengetahui sifat2 dari calon2 tersebut. Arti kata masyarakat sudah mengetahui kalau calon2 tsb kinerjanya tidak bagus atau sudah tidak pantas menjadi pemimpin, seperti contoh banyak kasus2 korupsi yg terjadi.
Jadi seharusnya MUI lebih menekankan fatwa tersebut untuk calonnya, misal “MUI MENGHARAMKAN CALON TERSEBUT UNTUK BERBUAT KORUPSI UNTUK KEDEPANNYA”.
Untuk pemilu itu sendiri, seharusnya kita sebagai warga negara indonesia merasa senang, kenapa begitu, coz kita bisa MEMILIH PEMIMPIN SECARA LANGSUNG, coba anda bayangkan waktu jaman orde lama, siapa coba yang milih pemimpin dan anggota legislatif? (mungkin anda sudah tahu)
Nah untuk masalah kita memilih atau tidak, itu sudah menjadi hak kita, kalau ada yang menggiring (dalam hal memaksakan) untuk memilih, “tetapi kita tidak ingin memilih”, ya bilang saja GOLPUT, tetapi kalau memang dipaksakan/digiring ((Maaf biasanya ini untuk masyarakat kalangan bawah) dan kita takut, ya dateng aja, tetapi kalau memang niatnya “ga mau memilih”, ya ga usah dicoblos trus masukin kertasnya ke kotak suara. Bereskan.. (kan sesuai dengan azaz pemilu yaitu LUBER *R=RAHASIA)
Trus untuk masalah apakah perlu dengan seorang pemimpin, jawabannya PERLU. Untuk penjelasannya mungkin saya ga akan ngasih contoh yg terlalu luas, tetapi saya setuju dengan bung “Ekonikoe AN – di komentar pertama” yaitu “Bukankah Anda juga seorang pemimpin yang baik bagi putri anda? (setidaknya sampai dia dpt menentukan arah hidupnya sendiri)“.
Jadi, ga mungkin anda mengatur jalan hidup putra-putri anda ke jalan yg salah, anda pasti menginginkan jalan hidup yg baik dan benar untuk putra-putri anda. (Setidaknya itu yg diinginkan untuk setiap orang tua). Nah kalau putra-putri anda sendiri tidak diatur oleh anda, mungkin pernyataan yg anda utarakan diatas akan berlaku, yaitu “kalaupun negara ini jadi bar-bar/berlaku hukum rimba karena tidak ada pemimpinnya apa peduliku, saya bisa berperilaku seperti orang yang hidup di rimba.” arti kata “putra-putri anda di kemudian nanti akan bertindak sesuai dengan kemauan mereka sendiri karena tidak belajar aturan/bimbingan yg diterapkan oleh orangtuanya.”
Itu hanya pendapat saya secara keseluruhan. Jadi saya jg tetap menghargai atas pendapat anda sendiri.
Wassalam…
Februari 7, 2009 pada 1:06 am
kalau mengenai RIMBAnya sih saya gak stuju, tapi kalau menegnai FATWA MUI< juga sayya gak stuju.. demokrasi artinya, boleh memilih siapa yang jadi pemimpin dan juga BOLEH UNTUK TIDAK MEMILIH… lebh baik ga memilih daripada memilih asal – asalan karena gak tau mana yang harus dipilh.
karena saat ini sih hampir 50% pemilih memilih untuk golput. bayangkan saja bagaiman jika 50% itu memilih asal2an, gimana coba hasilnya??
ada2 wae Fatwanya…..
Februari 9, 2009 pada 10:57 pm
Iseng amat MUI itu. Entar cacing manak juga dibahas pulak.
Februari 11, 2009 pada 9:58 am
Sebagian besar caleg kita, nol besar dalam hal itu. Yang mereka pedulikan adalah “iklan”, “promosi” dst. Mereka tak mau duduk bersama kita, berkunjung ke rumah, mencangkul parit-parit kita, atau konon pula malah menjadi saksi dari perkawinan anak, saudara dan teman-teman kita. Mereka disibukkan oleh perilaku politik “langit-langit”: berada di awang-awang dan tak ingin berpijak ke tanah. Mereka meletakkan dan menempel gambar-gambar mereka di pagar-pagar rumah kita, tapi tak mau masuk ke pekarangan kita.
Saya Setuju 10.000 %. mereka hanya datang ke pelosok2 saat menjelang pemilu setiap 5 tahun sekali. berjanji akan membangun desa yang dikunjunginya padahal mereka bukan berfungsidan bertugas “membangun”. Sudah saatnya rakyat memilih figur yang benar-benar terbukti mengerti dan berani menyuarakan hak2 rakyat yang sering diabaikan, diplintir bahkan kadangkala dirampas oleh para penguasa. salam
Februari 13, 2009 pada 8:18 am
salam
tapi apakah kita mau lepas dari keadaan yang ada di depan mata kita dengan bersikap apatis terhadap masalah yang menimpa bangsa ini ??
demokrasi memang bagus, tapi akan lebih bagus lagi bila diiringi peningkata SDM masyarakat melalui pendidikan politik yang benar supaya rakyat mampu berpikir kritis terhadap apa yang menimpanya ..
salam kenal dari saya, seorang yang baru mencoba memahami apa makna hidup bagi manusia ..
raza23.wordpress.com
salam.
Februari 17, 2009 pada 7:20 am
assalamualaikum,
trimakasih kunjungannya, sayang kok lewat spam, hehehe
maaf jika kiranya ngomong pake ilmu insyaallah tidak ngawur, …jadi kalo kita semua sepakat golput, ya mbok alasanya yang mantab gitu, jangan asal2an aja, jangan hanya sekedar urusan perut ente aja, tapi jadikan golput sebagai pilihan karena kita peduli, atas bangsa kita, atas akidah kita, hukum sudah final dengan adanya Al quran dan Hadist, kenapa pula kita menganggkat tuhan2 kecil untuk membuat hukum baru yang wal hasil kita sudah tahu pasti mereka tidak mampu
maaf, kalo ada salah mohon pencerahan
http://khilafahcenter.wordpress.com
Februari 19, 2009 pada 6:38 am
Tuhan berkarya dalam diri manusia, manusialah tangan dan kakiNya
Setiap pribadi telah dianugrahi talenta bukan untuk digenggam erat namun untuk saling berbagi
Tiada yang paling hebat namun kebersamaan membuat kuat
Dengan tulus menerima dan merayakan talenta yang ada pada orang-orang disekitar kita & dengan rendah hati mempersembahkan (melepas) talenta kita hidup semakin dipenuhi dan digenapi
Karena kita seumpama untaian bunga, untaian batang-batang lilin yang menyala
Malampun benderang berpendar cahaya
Atmosfer dipenuhi harum wangi bunga
Februari 20, 2009 pada 3:29 am
Haruskah para pemilih digiring ke tempat-tempat pemugutan suara jika setelah pemilu ternyata mereka yang terpilih akhirnya hanya berpesta di atas penderitaan rakyat.??????????
Betul Mbak… lebih baik GOLPUT kalau begitu..
Februari 23, 2009 pada 8:35 am
Setuju wae lah….
Kita makan kn buat hidup, bukan hidup buat makan…hehehe..
Maret 7, 2009 pada 12:24 am
Mau dong Pak Kedubes jemput aku! Lumayan bisa jalan-jalan ke Paris gratis. Jika harus nusuk di Paris, sedang tiket TGV + hotel bayar sendiri … kayaknya ogah ya….
Maret 7, 2009 pada 7:42 pm
Betul komen mas Herman SY, setubuh eit se7 sekali aku.

1. Kalau kita sudah Login di blog kita dan memberi komen ke blogger lain tidak perlu lagi mencantumkan url blog kita, biar nggak keperangkap Satpam eh Spam yah
2. Kalo kita mengikuti “fatwa” di postingan ini apalagi semua WNI, apalah jadinya negri ini. Jadi maksud aku, jika kita nggak suka ama model pencoblosan pemilu kayak gitu dan tidak mau dibilang golput ya sebaiknya kita ambil jalan tengahnya aja. Undangan tetap kita datangi, kertas pemilu kita bawa ke rombong, mau dicoblos apa enggak itu urusan dalam negeri masing-masing.
3. Emang demokrasi itu pengembang/nenek moyangnya dari mana, bukan dari Ina kan? Kita kan hanya ngadopsi doang.
Kalawo mau sistem yang lebih jelas, nyata, dan berpahala ya akhirnya “harus” mengganti sistem dulu upgrade ke sistem khalifah. Walloohu a’lam.
4. Lagian pengertian golput sendiri di Ina perlu diperjelas deh. Kalau yang dimaksud adalah mereka yang dengan sengaja dan menolak dengan jelas kemudian tidak mau mencoblos, seharusnya bukan disebut golput, tetapi warneg yang “kurang/rendah partisisapinya”.
5. Kalo bicara bahwa mencoblos itu adalah hak dan bukan kewajiban, maka tidak ada dan tidak seharusnya (tidak bisa) disalahkan. Hak mau diambil silakan, nggak ya silakan, kembali ke urusan hostnya lagi.
6. Kalawo no 4 dan 5 “dianggap” golput, maka yang nyoblos apakah boleh kita katakan golongan hitam? Hih… kan malah tambah serem tuh.
Jadi saya sendiri tidak setuju penggunaan istilah golongan putih itu dan perlu diganti “low partisisapi” tadi
Maret 10, 2009 pada 11:25 am
tulisannya tajem banget yah… suka deh bacanya,, beneran!
ga pakek basa basi tralala, langsung tu de poin,
salute Boz!
Maret 10, 2009 pada 11:29 am
*oh ya ada yg kelupaan boz..
secara diriku adalah pemilih pemula,
secara pula diriku adalah anak desain grafis,
ntar pas nyoblos bakal tak cari tuh gambar yg paling keren/kreatip…
yah, minimal sepuluh gambar ajah yg tak pilih,
tapi pasti bingung deh kayaknya
secara kan buanyak banget tuh piliannya,
fyuh,, hidup kok cuma dikasi pilian ajah… tanya kenapa???
Maret 28, 2009 pada 4:24 am
assalamu alaikum wr. wb.
Permisi, saya mau numpang posting (^_^)
http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/
sudah saatnya kita ganti sistem, semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)
wassalamu alaikum wr. wb.
Maret 28, 2009 pada 8:50 pm
Itu hak kita, jangan mau kita diperbudak. Apalagi dalam kondisi sekarang lieur…lieur…lieur….